Didalam cerita Abu Nawas, tokoh utama memiliki sifat. a. periang b. komedi c. humoris d. pemarah e. penyedih . Latihan Soal Seni Budaya Seni Budaya ★ Ujian Semester 2 (UAS / UKK) Seni Budaya SMA Kelas 10. Di dalam cerita Abu Nawas, tokoh utama memiliki sifat. a. periang b. komedi c. humoris d. pemarah e. penyedih. Pilih jawaban
Padatokoh Aku penulis coba mengangkat sisi-sisi lain dari manusia. Memperbaiki niat dan memiliki rasa ikhlas yang ditunjukkan oleh tokoh Aku merupakan wujud konkret manusia memiliki nilai religius. Tokoh Aku dihadapkan pada suatu peristiwa yang membuat dirinya memiliki sifat penyerahan diri yang menyeluruh dan tergambar lewat perkataannya
AbuNawas, Penyair Tersohor Arab yang Kontroversial. 07/05/2021, 23:33 WIB. Bagikan: Komentar. Lihat Foto. Foto sampul yang dipindai dari buku yang pertama kali diterbitkan di Mesir pada tahun 1968, berjudul: I'tirafat Abu Nawas (Confessions of Abu Nuwas), yang ditulis oleh Kamel Al-Shennawi (1908-1965).
orangParsi. Isi 6 Selain itu, masyarakat Arab Jahiliah menganut agama Yahudi. Fakta Agama Yahudi tersebar luas di selatan Arab. Penganut asal agama ini ialah Bani Israel yang tinggal di utara tanah Arab. Penganut agama ini mempunyai kitab suci iaitu kitab Taurat tetapi kandungan asal kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. ini telah diubah isi kandungannya oleh orang Yahudi demi
Tokohutama dalam kisah ini adalah Abu Nawas yang sedang mencari jodoh. Ia digambarkan memiliki sifat yang sabar, tawakal, dan juga cerdik. Buktinya, selama berbulan-bulan ia terus berdoa memohon didekatkan dengan wanita pujaannya. Ketika doa itu tak juga terkabul, ia tak lagu pesimis atau menyalahkan Sang Maha Pengasih.
114 Di dalam cerita Abu Nawas, tokoh utama memiliki sifat. a. periang b. komedi c. humoris d. pemarah e. penyedih Jawaban: c 115. Bagian epilog terdapat pada. a. akhir naskah b. awal dan akhir naskah c. bebas d. awal naskah e. tengah naskah Jawaban: a 116. Cerita dalam Hikayat 1001 Malam bertempat di. a. kebun b. taman c. kerajaan d
Didalam cerita Abu Nawas, tokoh utama - 25582357. sikbal886ov65zc sikbal886ov65zc 19.11.2019 Seni Sekolah Menengah Pertama terjawab Di dalam cerita Abu Nawas, tokoh utama memiliki sifat a. periang b. komedi c. humoris d. pemarah 1 Lihat jawaban Iklan Iklan FITRA2580 FITRA2580 c humoris. semoga bermanfaat. Iklan
k4gzlE. Sosok Abu Nawas sering kali dikenal cerdas dan cerdik. Ada saja caranya dalam menanggapi berbagai macam permasalahan dalam hidupnya. Salah satunya tertuang dalam cerita lucu Abu Nawas tentang puasa. Simak kisahnya di bawah ini, yuk!Ada berbagai macam cerita lucu Abu Nawas yang sering diceritakan ulang, salah satunya adalah tentang puasa. Seperti dalam kisah kocak lainnya tentang sang pujangga, ada saja akal cerdik yang ia ini, dirinya yang tengah berpuasa hendak dikerjai oleh dua sahabatnya yang tidak puasa. Kira-kira akal seperti apakah yang ia lakukan untuk menghadapi kedua sahabatnya itu?Daripada penasaran, langsung saja simak cerita lucu Abu Nawas tentang puasa yang telah kami siapkan di bawah ini. Setelah mengetahui kisahnya, kamu juga bisa membaca sedikit ulasan seputar unsur intrinsik dan fakta menariknya, lho! Langsung dibaca, yuk! Alkisah pada suatu siang di bulan Ramadhan, rumah Abu Nawas dikunjungi oleh kedua sahabatnya. Layaknya umat Islam lain, ia juga berpuasa. Namun tidak begitu dengan kedua temannya. Kedua sahabatnya itu datang ke rumah sang pujangga dengan tujuan untuk bersekongkol mengerjainya. “Assalamualaikum,” ucap kedua sahabat nyaris bersamaan. “Abu Nawas, mengapa kamu di rumah saja? Ayo kita ngabuburit!” Tanpa berpikiran apa-apa, Abu Nawas mengiyakan ajakan mereka untuk mengisi waktu sembari menunggu berbuka puasa. Namun, siapa sangka kedua temannya itu justru mengajaknya pergi ke sebuah tempat makan. Karena kebaikan hatinya, sang pujangga Arab itu tidak protes. Ia ikut saja masuk ke dalam tempat makan tersebut. Meskipun begitu, karena tengah berpuasa, ia bertekad tidak akan ikut makan. Untungnya, kedua temannya itu membeli makan untuk dibawa pulang, bukan dimakan di tempat. “Rupanya, kedua temanku ini sangat menghormatiku yang sedang berpuasa. Meskipun tidak berpuasa, tapi mereka tidak makan langsung di tempat makan itu, melainkan membawa makanannya pulang,” pikirnya. Persiapan Berbuka Puasa di Rumah Sahabat Setelah selesai membeli makanan, mereka bertiga menuju ke rumah salah seorang sahabat. Kebetulan saja ketika sampai di sana, azan maghrib baru saja berkumandang. “Wah, alhamdulillah sudah waktunya berbuka puasa,” ucap Abu Nawas. “Batalkan saja dahulu puasamu dengan minum,” ucap salah satu temannya. Sang pujangga pun segera minum kemudian menunggu ditawari makan bersama. “Jangan lupa salat dulu,” ucap temannya yang lain, “nanti kamu ketinggalan jatah waktu salat maghrib!” “Benar juga!” jawab Abu Nawas. Ia kemudian mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah salat maghrib. Seusai salat, ia kembali menemui kedua sahabatnya sambil berpikiran, kali ini akhirnya ia bisa makan. “Mengapa kamu tidak mengaji Alquran?” tanya temannya. “Mumpung perutmu masih kosong, lebih baik kamu mengaji dahulu. Takutnya nanti kalau sudah kenyang kamu jadi mengantuk.” Lama kelamaan penyair dari Persia itu merasa jengkel. Ia merasa kalau kedua sahabatnya itu sedang mengerjainya. Meskipun begitu, ia tetap menurut dan mengaji Alquran. Kemudian apakah setelah mengaji akhirnya ia bisa makan? Tentu saja tidak. “Abu Nawas, sekarang mari kita lomba tidur!” ucap salah satu temannya, “Esok pagi yang memiliki mimpi paling indah akan bisa memakan makanan ini!” Bukannya mengajak makan, temannya itu justru mengajak lomba tidur. Tentu saja saat itu ia benar-benar sadar kalau ia sedang dikerjai teman-temannya. Baca juga Kisah Nenek Pakande dan Ulasannya, Legenda Wanita Tua Pemakan Manusia dari Sulawesi Selatan Mimpi Siapakah yang Paling Indah? Meskipun marah, tokoh yang hidup di abad ke-8 ini tetap menyanggupi perlombaan yang tidak masuk akal tersebut. Ia dan kedua sahabatnya tidur malam itu juga. Keesokan harinya, setelah bangun tidur mereka pun kembali berkumpul untuk membicarakan mimpi yang mereka dapatkan semalam. Salah satu dari teman Abu Nawas memulai ceritanya, “Semalam aku bermimpi sangat indah sekali. Di dalam mimpi itu, aku memiliki rumah mewah, mobil mewah, uang yang banyak, dan pesawat pribadi. Hidupku pokoknya sangat sempurna!” Teman yang lain menganggukkan kepalanya beberapa kali ketika mendengar cerita itu. “Mimpimu memang indah, sahabat,” ucapnya kemudian. “Tapi egois sekali. Kalau aku semalam justru bermimpi kalau negeriku ini tidak punya hutang, infrastrukturnya berkembang dengan baik, jalan-jalannya mulus, pelabuhan selalu lancar, ongkos transportasi murah, dan semua rakyatnya begitu sejahtera hingga aku tak bisa menemukan orang yang berhak menerima zakat.” Mendengar cerita tentang mimpi tersebut, salah satu sahabat sampai terkagum-kagum. “Mimpimu luar biasa sekali, sahabat,” ucapnya. “Bagaimana denganmu, Abu Nawas? Apakah mimpimu lebih luar biasa dari sahabat kita ini? Coba ceritakanlah kepada kami, wahai sahabat!” Mimpi Abu Nawas yang Biasa Saja “Sayangnya, mimpiku hanya biasa saja,” ucap sang pujangga memulai ceritanya, “Semalam aku bermimpi dengan Nabi Daud as. Kalian tentu tahu kan kalau Nabi Daud gemar berpuasa? Beliau sering kali berpuasa sehari kemudian berbuka sehari setiap waktu.” Kedua sahabat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kemudian semalam dalam mimpiku, Nabi Daud bertanya padaku, Apakah engkau berpuasa, wahai Abu Nawas?’ Tentu saja aku langsung menjawab iya,” lanjutnya. “Kemudian beliau kembali bertanya, Sudahkah engkau berbuka puasa, wahai Abu Nawas?’ dan aku hanya bisa menjawab belum. Kemudian Nabi Daud as menyuruhku segera berbuka puasa. Saat itu juga aku langsung bangun dari tidur dan mengambil makanan yang sudah kalian belikan kemarin sore!” Kontan kedua sahabat pun hanya bisa saling berpandangan. Salah satu dari mereka kemudian mengecek makanan yang mereka simpan di dalam lemari malam sebelumnya. Benar saja, semua makanan yang mereka simpan kemarin kini telah raib. Berarti semalam sang pujangga sungguh-sungguh memakan makanan itu. Kedua sahabat pun langsung menyesali perbuatan mereka kemarin. Siapa sangka rupanya mereka tetap kalah cerdik dari akal temannya. Berniat mengerjai, justru akhirnya ganti dikerjai. Baca juga Cerita Mukjizat Nabi Daud As yang Mengagumkan dan Memperluas Wawasan Unsur Intrinsik Cerita Lucu Abu Nawas tentang Puasa Setelah membaca cerita lucu Abu Nawas tentang puasa, kini kamu perlu mengetahui ulasan singkat tentang unsur intrinsiknya. Mulai dari gagasan utama, tokohnya, latar lokasi, alur cerita, dan pesan moral yang bisa didapatkan. 1. Tema Gagasan utama atau tema dari cerita lucu Abu Nawas tentang puasa ini adalah kesabaran. Layaknya sang pujangga kelahiran Persia yang tetap bersabar meskipun kedua sahabatnya mengerjainya. Pada akhirnya, ia bisa gantian mengerjai teman-temannya itu. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada tiga tokoh yang disebutkan dalam cerita lucu tentang puasa ini, yakni Abu Nawas dan dua sahabatnya. Seperti dalam kisah lainnya, sang tokoh utama diceritakan memiliki sifat kocak dan cerdik. Ada saja cara yang ia lakukan untuk membalas kedua sahabatnya yang telah berlaku curang. Selain itu, ia juga seseorang yang taat beribadah dan rajin berpuasa. Di sisi lain, kedua sahabatnya memiliki sifat sebaliknya. Sejak awal mereka berniat untuk mengerjai pujangga kesayangan Harun Ar Rasyid yang sedang berpuasa. Mereka tidak membiarkan sahabatnya berbuka puasa dengan mudah. Meskipun begitu, mereka sendiri rupanya juga mudah dikerjai oleh sang tokoh utama. 3. Latar Tak banyak latar tempat yang disebutkan di dalam cerita lucu Abu Nawas tentang puasa ini. Antara lain hanya rumah sang pujangga, tempat makan di mana kedua sahabatnya membeli makanan, dan rumah salah satu sahabat tempat mereka berkumpul. 4. Alur Cerita lucu Abu Nawas tentang puasa ini memiliki alur maju atau progresif. Kisahnya dimulai ketika sang tokoh utama diajak kedua temannya untuk ngabuburit. Mereka kemudian mampir di sebuah tempat makan untuk membungkus makanan. Konflik mulai terjadi ketika waktu berbuka puasa sudah tiba, tapi kedua teman itu tak membiarkan sang pujangga makan. Ada saja alasan yang dibuat sampai akhirnya mereka membuat lomba tidur dan bermimpi. Keesokkan harinya, mereka bertiga saling menceritakan mimpi yang dialami semalam. Dengan kecerdikannya, Abu Nawas bercerita kalau ia memimpikan Nabi Daud as yang menyuruhnya berbuka puasa. Oleh karena itu, ia langsung bangun dari tidurnya dan memakan makanan yang disimpan oleh kedua sahabatnya. 5. Pesan Moral Ada beberapa amanat atau pesan moral yang bisa didapatkan dari cerita lucu Abu Nawas tentang puasa di atas. Salah satunya adalah jangan pernah mengerjai temanmu terlalu berlebihan. Nantinya bisa saja kamu sendiri yang kena batunya. Selain itu, kamu juga perlu menyontoh sikap sang pujangga yang tetap bersabar ketika dikerjai oleh kedua temannya. Ia tetap mengikuti setiap ucapan dan permintaan kedua sahabatnya itu. Meskipun begitu, ia juga memikirkan cara cerdik agar bisa membalas kedua sahabatnya, yakni dengan bangun tidur terlebih dahulu dan memakan semua makanan yang sudah disimpan. Selain unsur intrinsik, di dalamnya pun terdapat unsur ekstrinsik yang mempengaruhi jalan cerita. Di antaranya adalah hal-hal di luar cerita yang melengkapi kisahnya, seperti nilai moral, sosial, budaya, dan agama. Baca juga Cerita Si Kancil, Kerbau, dan Buaya Beserta Ulasan Menariknya untuk Mengingatkan Pentingnya Balas Budi Fakta Menarik Seputar Cerita Lucu Abu Nawas tentang Puasa Setelah mengetahui kisah dan ulasan seputar unsur intrinsik salah satu cerita lucu Abu Nawas yang paling terkenal, kamu juga bisa mendapatkan sedikit penjelasan seputar fakta menariknya. Berikut adalah ulasan singkatnya 1. Ada Versi Cerita yang Berbeda Rupanya, cerita lucu dari Abu Nawas tentang puasa ini memiliki beberapa variasi kisah yang agak berbeda. Pada beberapa cerita ada yang menyebutkan kalau dua sahabat yang dimaksud adalah seorang Pendeta dan Yogi ahli Yoga. Di kisah lain, disebutkan kalau yang sebenarnya berpuasa adalah sang kedua sahabat. Sementara sang pujangga sendiri tidak berpuasa. Mereka melakukan perjalanan bersama-sama, tapi ia tak diizinkan makan jatah perbekalannya. Meskipun begitu, akhir dari kisah tersebut tetap sama, yaitu mereka membuat lomba tidur dan Abu Nawas bercerita kalau ia memimpikan Nabi Daud as yang menyuruhnya berbuka puasa. Baca juga Kisah dari Nusa Tenggara Barat, Kembang Ander Nyawe Beserta Ulasan Lengkapnya yang Menarik tuk Kamu Simak Sudah Puas Membaca Cerita Lucu Abu Nawas tentang Puasa? Demikianlah cerita lucu dari Abu Nawas tentang pengalaman puasa. Kisahnya kocak dan menghibur, kan? Cocok sekali dibacakan kepada teman-temanmu yang menyukai humor sang pujangga juga. Kalau ingin membaca cerita Abu Nawas terbaik lain yang nggak kalah kocak, cek artikel-artikel di kanal Ruang Pena di Kamu bisa mendapatkan kisah tentang Abu Nawas yang sedang mencari jodoh, mencari cincin, atau menipu malaikat. PenulisRizki AdindaRizki Adinda, adalah seorang penulis yang lebih banyak menulis kisah fiksi daripada non fiksi. Seorang lulusan Universitas Diponegoro yang banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, menonton film, ngebucin Draco Malfoy, atau mendengarkan Mamamoo. Sebelumnya, perempuan yang mengklaim dirinya sebagai seorang Slytherin garis keras ini pernah bekerja sebagai seorang guru Bahasa Inggris untuk anak berusia dua sampai tujuh tahun dan sangat mencintai dunia anak-anak hingga sekarang.
Sumber Twitter - kamikamustudioDongeng 1001 malam memiliki beberapa kisah yang menarik disimak, salah satunya adalah cerita lucu Abu Nawas yang menipu malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Kalau penasaran, langsung saja simak ulasannya di Nawas merupakan seorang pujangga dari Arab yang dikenal jenaka dan sering disebutkan dalam Dongeng 1001 Malam. Salah satu kisah tentang Abu Nawas yang terkenal adalah saat ia menipu malaikat di alam kubur. Cerita ini menunjukkan bahwa sang penyair tersebut tak hanya kocak semasa hidupnya saja. Bahkan setelah ia meninggal dunia dan bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir pun ia tetap jenaka. Kira-kira seperti apa ya kisahnya? Kalau penasaran, langsung saja simak kisah Abu Nawas menipu malaikat di alam kubur berikut. Setelah itu, jangan lupa simak juga ulasan seputar unsur intrinsik dan fakta menariknya, ya! Alkisah, Abu Nawas yang telah beranjak tua tengah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu nyawanya diambil. Salah satu persiapan yang ia lakukan adalah dengan berpesan kepada keluarganya untuk membelikan kain kafan usang untuk membungkus tubuhnya. Tak berapa lama waktu berselang, sang pujangga meninggal dunia. Sesuai dengan pesan yang pernah diucapkan, sang istri mencarikan kain kafan lusuh yang warnanya sampai kecokelatan saking usangnya. Ia pun kemudian dimakamkan dengan selayaknya. Setelah itu, ketika ruhnya masih berada di alam kubur, datanglah malaikat Munkar dan Nakir. Mereka memiliki tugas untuk bertanya di alam kubur dan memberikan siksa kubur. Ketika melihat kafan Abu Nawas, kedua malaikat itu jadi bingung dan saling memandang satu sama lain. Karena seharusnya makam yang mereka datangi itu berisi dengan jenazah baru. Namun, kenapa kain kafannya sudah tidak bagus lagi. Setelah adu pendapat, mereka meyakini kalau jenazah tersebut adalah mayat baru meskipun kafannya sudah usang. Mereka akhirnya memutuskan untuk tetap bertanya pada ruh Abu Nawas. “Siapa Tuhanmu?” tanya Munkar. Sang pujangga sengaja tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia membiarkan suasana menjadi hening selama beberapa saat, baru kemudian berucap, “Apa kalian tidak salah makam? Coba lihat ini kafanku yang usang! Terlihat jelas kalau aku ini penghuni lama, kan?” Mendengar ucapannya, kedua malaikat kembali terdiam kebingungan. Jika melihat dari kain kafannya, tampilannya memang usang. Namun, bagaimanapun juga, tanah makamnya terlihat baru. Setelah kebingungan, pada akhirnya kedua malaikat itu memutuskan kalau jenazah Abu Nawas memang sudah lama. Dan akhirnya ia berhasil lolos dari pertanyaan dan siksa kubur dari malaikat. Baca juga Legenda Putri Pukes dan Ulasan Menariknya, Kisah Pengantin yang Berubah Jadi Batu Unsur Intrinsik Cerita Lucu Abu Nawas Menipu Malaikat di Alam Kubur Sumber Wikimedia Commons Setelah membaca cerita singkat Abu Nawas yang menipu malaikat dengan kain kafan lusuh, kini kamu bisa mengetahui sedikit unsur intrinsik yang ada di dalam ceritanya. Di antaranya adalah 1. Tema Inti cerita atau tema dari kisah lucu Abu Nawas yang menipu malaikat di alam kubur ini adalah kecerdikan. Demi bisa menghindari siksa kubur, pria yang cerdik ini sampai mengakali dengan menggunakan kain kafan yang sudah usang. Tujuannya agar ia dikenali sebagai jenazah yang sudah lama dan sudah pernah disiksa. Rupanya, siasatnya itu berhasil. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada satu tokoh utama yang disebutkan dalam kisah ini, yakni Abu Nawas. Ia memiliki sifat cerdik dan jenaka. Ia memberikan ide kepada anak dan istrinya agar membungkusnya dengan kain kafan usang ketika ia meninggal. Hal itu dilakukan agar ia bisa menghindari siksaan kubur dari malaikat. Selain itu, ada beberapa tokoh pembantu lain yang melengkapi kisah ini, yakni malaikat Munkar dan Nakir yang menemui Abu Nawas di alam kubur, juga sang istri dan anak yang membantu menyiapkan kain kafan usang. 3. Latar Latar tempat yang disebutkan dalam kisah ini adalah di rumah tempat sang pujangga merencanakan siasatnya, dan dalam makam tempatnya menipu malaikat Munkar juga Nakir. 4. Alur Alur yang digunakan dalam cerita dongeng Abu Nawas menipu malaikat di atas adalah maju atau progresif. Kisahnya dimulai dengan persiapan sang tokoh utama untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja. Ia berpesan pada istri dan anaknya untuk memakamkannya dengan kain kafan usang. Konflik terjadi ketika malaikat Munkar dan Nakir datang untuk memberikan pertanyaan dan siksa kubur. Namun, rupanya akal Abu Nawas dengan mengenakan kain kafan usang itu bisa membuatnya terhindar dari siksa kubur. 5. Pesan Moral Kamu mungkin sempat mengira kalau cerita lucu Abu Nawas menipu malaikat dengan kain kafan lusuh ini tak akan bisa memberikan amanat atau pesan moral. Padahal kamu tetap bisa mendapatkannya. Yaitu, jadilah seseorang yang selalu cerdik dalam menghadapi berbagai macam masalah di hidupmu. Tak peduli seberapa besar masalahmu, yakinlah bahwa pasti ada jalan keluarnya. Kisah ini juga mengandung unsur ekstrinsik, lho. Di antaranya berupa nilai-nilai sosial, moral, dan agama yang berkaitan dengan masyarakat sekitar. Baca juga Cerita Singkat Nabi Nuh As dan Mukjizatnya yang Akan Membuatmu Kagum Fakta Menarik tentang Kisah Abu Nawas Menipu Malaikat Sumber Wikimedia Commons Setelah membaca salah satu cerita Abu Nawas terbaik di artikel ini, jangan lupa ketahui juga fakta menarik seputar kisahnya. Berikut ini ulasannya 1. Dikaitkan dengan Wafatnya Gus Dur Cerita dongeng ini mungkin bisa dibilang menjadi semakin terkenal setelah Ketua Umum Pengurus besar Nahdlatul Ulama PBNU yang bernama KH Said Aqil Siroj menceritakannya dalam acara Silaturahim Alumni Madrasah Kader Nahdlatul Ulama MKNU di tahun 2019. Tak hanya menceritakannya, ia juga menghubungkannya dengan wafatnya Gus Dur pada tahun 2009. Dengan berkelakar, ia menyebutkan kalau malaikat Munkar dan Nakir mungkin tak pernah memiliki kesempatan bertanya kepada Gus Dus di alam kubur. Karena kedua malaikat tersebut baru akan datang ketika pengantar jenazah paling terakhir sudah melangkahkan kakinya menjauh sebanyak tujuh langkah. Nyatanya, makam Gus Dur tak pernah sepi dari peziarah. “Waktu malaikat akan bertanya, eh ternyata masih ada orang. Nggak jadi, deh. Begitu terus sampai sekarang,” ucapnya saat itu yang disambut dengan tawa ribuan Alumni MKNU. Apakah kamu setuju? Baca juga Legenda Asal Mula Bukit Kelam dan Ulasannya, Akibat Iri dan Dengki Hati Manusia Kisah Abu Nawas yang Jenaka saat Menipu Malaikat dengan Kecerdikannya Itulah tadi cerita lucu tentang Abu Nawas yang menipu malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Sangat menggelikan dan bisa menghiburmu, bukan? Kalau masih ingin mencari cerita lucu Abu Nawas lainnya, cek saja artikel kisah dongeng lain di PosKata. Di sini kamu bisa mendapatkan kisahnya ketika menipu raja, mencari kemudian menipu Tuhan, mencari jodoh, hingga menangkap angin dengan botol ajaib. Simak langsung, yuk! PenulisRizki AdindaRizki Adinda, adalah seorang penulis yang lebih banyak menulis kisah fiksi daripada non fiksi. Seorang lulusan Universitas Diponegoro yang banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, menonton film, ngebucin Draco Malfoy, atau mendengarkan Mamamoo. Sebelumnya, perempuan yang mengklaim dirinya sebagai seorang Slytherin garis keras ini pernah bekerja sebagai seorang guru Bahasa Inggris untuk anak berusia dua sampai tujuh tahun dan sangat mencintai dunia anak-anak hingga sekarang. EditorNurul ApriliantiMeski memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor, wanita ini tak ragu "nyemplung" di dunia tulis-menulis. Sebelum berkarier sebagai Editor dan Content Writer di Praktis Media, ia pun pernah mengenyam pengalaman di berbagai penjuru dunia maya.
Buat yang sering membaca dongeng 1001 Malam, mungkin kamu sudah tak asing dengan karakter Abu Nawas. Dalam, kisah Abu Nawas dan Telur Unta yang ada di artikel ini, yuk simak betapa cerdik dan konyol dirinya! Abu Nawas adalah salah satu tokoh dalam dongeng 1001 Malam. Ia kerap digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan konyol. Salah satu kisah terbaik yang menceritakan kekonyolannya adalah dongeng Abu Nawas dan Telur kamu penyuka dongeng 1001 Malam, kisah tersebut mungkin sudah tak asing lagi bagimu. Buat yang belum baca, secara singkat, dongeng ini mengisahkan tentang seorang raja yang menderita suatu penyakit. Karena tak kunjung sembuh, Abu Nawas pun memberinya saran tuk memakan telur hal apa yang akan dilakukan raja? Akankah ia percaya bahwa unta itu menghasilkan telur? Kalau penasaran dengan kisah selanjutnya, tak perlu berlama-lama lagi. Mending langsung saja simak cerita, unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menarik Abu Nawas dan Telur untuk di bawah ini!Cerita Dongeng Abu Nawas dan Telur Unta Alkisah, pada suatu hari, hiduplah seroang raja bernama Harun Al Rasyid. Ia merasakan sakit di sekujur tubuunya. Bahkan, untuk berjalan saja ia tak kuat. Badannya pegal-pegal dan terasa sangat lemas. Ia lalu memanggil tabib istana tuk mengobatinya. Namun, tabib itu tak berhasil. Baginda Raja tetap saja tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal. Ia lalu memanggil satu persatu tabib di Kota Bagdad. Sayangnya, penyakitnya tak jua dapat disembuhkan. Atas saran dari pengawal istana, Baginda Raja akhirnya membuat sayembara. “Barang siapa bisa menyembuhkan dan menghilangkan penyakit Baginda Harun Al Rasyid akan mendapatkan hadiah berupa uang dan emas yang banyak,” ucap pengawal pada rakyat di Kota Bagdad. Sayembara itu pun langsung tersebar luas. Banyak sekali orang dan tabib yang mencoba mengobati Baginda Raja. Sayang sekali, tak ada satu orang pun berhasil menyembuhkan sang Raja. Hingga suatu hari, Abu Nawas mendengar sayembara itu. Ia tertarik untuk mengikuti sayembara tersebut. Padahal, sebenarnya ia tak punya kemampuan dalam mengobati. Keesokan harinya, Abu Nawas menghadap Harun Al Rasyid. Betapa terkejutnya Raja melihatnya, “Hmm, rupanya kau ikut pula dalam sayembara ini.” “Tentu saja, Baginda. Hamba ingin Baginda sehat kembali,” ucap Abu Nawas. “Lantas, apa yang bisa kau lakukan untuk mengobati penyakitku ini? Kulihat kau tak membawa obat-obatan atau peralatan untuk menyembuhkanku,” tanya Harun Al Rasyid. “Hamba akan mencobanya dengan cara yang berbeda dari para tabib lainnya, Baginda. Karena, tampaknya pengobatan biasa tak bisa menyembuhkan Baginda. Benar begitu, bukan?” ujarnya meyakinkan Raja. “Baiklah, cara apa yang kau tawarkan?” tanya Raja. “Sebelum memberikan obat, bisakah Baginda menceritakan apa yang dirasakan?” tanyanya, “Badanku terasa pegal dan lemas. Tangan dan kakiku nyeri dan pegal-pegal. Untuk berjalan pun terasa susah. Padahal, selama ini aku tak banyak bergerak,” ujar Baginda Raja. Baca juga Kisah Terbentuknya Pulau Nusa dari Kalimantan Tengah dan Ulasannya, Kecerobohan Manusia yang Berakhir Tragis Abu Nawas Mencari Cara Tuk Mengobati Baginda Setelah melakukan pemeriksaan pada tubuh Baginda, Abu Nawas tak langsung memberikan obat. Ia meminta waktu selama 2 hari untuk meramu obat terbaik. Sebenarnya, ia belum tahu rencana selanjutnya. Raja pun setuju tuk memberinya waktu dua hari. Sepulangnya dari istana, Abu Nawas duduk di bawah pohon yang rindang. Ia memikirkan cara untuk mengobati sang Raja. Wajar saja bingung, ia bukanlah seorang tabib. Di tengah pikirannya yang sedang kalut, ia melihat dari kejauhan seorang kakek tua yang sedang memetik buah kurma di kebun. Abu Nawas yang heran pun mendekati kakek itu. “Kek, kau sudah tua. Kenapa malah memetik buah. Di mana anak dan cucumu?” ujarnya sambil membantu sang kakek mengambil buah-buahan. “Bukan tanpa alasan, Nak. Kakek justru senang melakukannya. Kalau diam diri di rumah, tubuhku akan terasa pegal-pegal. Jadi, aku harus terus bergerak agar ototku tak kaku,” jawab kakek itu. “Oh, jadi begitu rupanya,” jawabnya. Jawaban dari sang kakek membuat Abu Nawas mengetahui penyebab dari penyakit sang Raja. Ia lalu mendapatkan ide untuk mengobati sang Raja. Keesokan harinya, Abu Nawas kembali menemui Baginda Raja. “Hai, belum dua hari kenapa kau sudah menghadapku. Apakah kau sudah menyiapkan obat untukku?” tanya Raja. “Maafkan hamba, Baginda. Kali ini hamba tak dapat membawa obat yang dapat baginda minum. Obat yang bisa menyembuhkan Baginda adalah telur unta. Baginda harus mencarinya sendiri. Jika tidak, khasiatnya akan menghilang,” terang Abu Nawas. “Kalau itu saranmu, baiklah. Aku akan mencarinya sendiri. Tapi, jika aku tak berhasil sembuh, kau akan aku hukum,” ujar Raja. Saat pagi tiba, Harun Al Rasyid dengan sekuat tenaga bangun dari tempat tidurnya untuk mencari telur unta di pasar. Ia bertanya dari satu penjual ke penjual lain, namun tak ada satu pun yang menjualnya. Sebenarnya, para pedagang merasa heran, dalam hati mereka bertanya, “Bukankah unta itu beranak bukan bertelur?”. Namun, mereka tak berani mengatakan hal tersebut pada baginda Raja. Baginda Mencari Telur Unta Setelah berkeliling kota, Raja tak menemukan satu pun penjual telur unta. Setelah itu, ia bertemu dengan seorang nenek. “Nek, tahukah kau di mana pedagang yang menjual telur unta?” ujarnya. Nenek itu pun terkejut. Ia lalu menjawabnya dengan jujur, “Kalau pun kau mencarinya hingga ujung dunia, kau tak akan bisa menemukannya.” Sambil tertawa kecil, ia berkat, “Unta itu tidak bertelur. Ia beranak.” Setelah mendengar jawaban tersebut, Harun Al Rasyid pun merasa dibodohi oleh Abu Nawas. Ia merasa geram dan marah. Tak sabar rasanya ingin menghukum pria itu. Namun, ia terlalu lelah. Sesampainya di istana, ia langsung tertidur pulas. Keeseokan harinya, bagindar Raja merasa segar bugar. Penyakit yang ia derita hilang begitu saja. Meski begitu, ia tetap ingin menghukum Abu Nawas. Ia tak terima pria itu telah membohonginya. Ia lalu memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Abu Nawas ke istana. Tak lama kemudian, pria itu menghadap sang Raja. “Bagaimana, Tuanku? Apakah engkau telah menemukan telur unta sesuai yang telah hamba ajarkan?” “Berani-beraninya kau telah mempermainkanku!” ujar Baginda marah. “Apa maksud Baginda?” ujar Abu Nawas. “Beraninya kau menyuruhku mencari telur unta! Padahal, ia tak bertelur tapi beranak!” ujar Baginda kesal. “Tentu saja Baginda tak akan menemukannya, sebab tak ada satupun unta yang bertelur di dunia ini. Tapi, sekarang hamba hendak bertanya, apakah badan Baginda masih pegal-pegal?” ujarnya. “Tidak. Aku sudah tidak merasakannya,” jawab Baginda. “Apakah tangan dan kaki Baginda masih merasa nyeri?” tanya Abu Nawas. “Tentu tidak. Aku bahkan semalam tertidur pulas,” jawab Baginda Raja. “Itu berarti, hamba tak bersalah, kan? Hamba berhasil menyembuhkan Baginda,” jawab Abu Nawas dengan santai. Mendengar hal itu, Harun Al Rasyid pun tak jadi kesal. Ia justru tertawa tergeleng-geleng mendengar Abu Nawas. Kini, ia rajin bergerak agar tak pegal-pegal lagi. Unsur Intrinsik Usai membaca kisah Abu Nawas dan Telur Unta yang lucu di atas, apakah kamu penasaran dengan unsur intrinsiknya? Kalau iya, tak perlu berlama-lama lagi. Langsung saja simak ulasan singkatnya di artikel ini! 1. Tema Inti cerita atau tema dari dongeng 1001 Malam ini adalah tentang kercedikan Abu Nawas. Terinspirasi dari seorang kakek yang memetik buah di pohon, ia mendapatkan ide tuk menyembuhkan penyakit sang Raja. Meskipun idenya terdengar konyol, yang penting raja berhasil sembuh dan sehat. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh utama dalam cerita ini. Siapa lagi kalau bukan Abu Nawas dan Harun Al Rasyid. Seperti kisah-kisah lainnya, Abu Nawas selalu digambarkan sebagai pria yang cerdik dan konyol. Harun Al Rasyid digambarkan sebagai raja yang pemalas. Sebab, penyakit pegal-pegal yang ia rasakan karena jarang bergerak. Hal itu menandakan bahwa ia kerap berdiam diri di istana. Selain itu, ia juga memiliki sifat mudah percaya. Buktinya, ia langsung mengikuti saran Abu Nawas untuk mencari telur unta. Selain tokoh utama, cerita ini juga memiliki tokoh pendukung yang turut mewarnai kisahnya. Mereka adalah Kakek pemetik buah yang menginspirasi Abu Nawas dan seorang Nenek jujur yang memberitahu baginda bahwa unta tidak bertelur. 3. Latar Ada beberapa latar tempat yang digunakan dalam cerita ini. Secara general, latar tempatnya adalah di Kota Baghdad. Secara spesifik, ada beberapa latar tempat yang digunakan, seperti istana, pasar, di bawah pohon rindang, dan perkebunan. 4. Alur Cerita Abu Nawas dan Telur Unta Dongeng Abu Nawas dan Telur Unta memiliki alur maju. Cerita bermula dari seorang raja yang menderita penyakit pegal-pegal pada badannya dan nyeri pada kaki dan tangannya. Ia mengundang tabib istana, tapi penyakitnya tak hilang Setelah itu, ia juga mengundang beberapa tabib di kota. Namun, hasilnya nihil. Penyakitnya tak kunjung hilang. Sepanjang hari, ia merasakan pegal-pegal dan nyeri. Sampai akhirnya, sayembara pun ia buat. Barangsiapa yang bisa menyembuhkan penyakit Raja, maka hadiah berupa emas dan uang akan ia dapatkan. Orang-orang pun berbondong-bondong datang ke istana untuk mencoba mengobati Raja. Sayangnya, belum ada yang berhasil. Sayembara itu pun sampai ke telinga Abu Nawas. Meski bukan tabib, ia ingin mencoba mengobati baginda Raja. Ia pun bergegas ke istana. Setelah medengar keluh kesah sang Raja, Abu Nawas minta waktu selama dua hari untuk mencari obat. Sebenarnya, Abu Nawas merasa bingung memikirkan solusi atas permasalahan sang Raja. Saat memikirkannya di bawah pohon, ia melihat seorang kakek memetik buah. Kakek itu berkata kalau hanya berdiam diri di rumah, tubuhnya akan terasa pegal-pegal. Dari situlah Abu Nawas mendapatkan inspirasi untuk menghilangkan penyakit Baginda Raja. Keesokan harinya ia kembali ke istana dan mengatakan pada Raja untuk mencari telur unta. Ia harus mencarinya sendiri. Sebab, bila yang mencari orang lain, maka khasiatnya akan menurun. Dengan polosnya, Baginda Raja memercayai perkataan Abu Nawas. Ia pergi ke pasar untuk mencari telur unta. Dari satu penjual ke penjual lain, telur unta tak dapat ia temukan. Lalu, ia bertemu dengan seorang nenek. Ia bertanya pada nenek itu, di mana bisa menemukan telur unta. Sang nenek pun terkejut. Namun, dengan jujur ia menjawab bahwa unta tak bertelur melainkan beranak. Sontak hal itu membuat Baginda Raja marah besar. Meski demikiaan, penyakitnya berhasil sembuh. Sebab, obat dari penyakitnya hanyalah sering bergerak agar otot-otot tidak kaku. 5. Pesan Moral Apa saja pesan moral dari cerita dongeng ini? Ada beberapa pesan moral yang bisa kamu petik, salah satunya adalah jangan jadi orang pemalas. Jarang bergerak akan membuat otot-ototmu kaku dan jadi mudah merasa pegal-pegal. Pesan kedua adalah jadilah orang yang solutif seperti Abu Nawas. Ia tak serta merta memberi obat pada sang Raja. Namun, ia mencari dulu akar permasalahannya. Setelah itu, barulah ia mencari solusi. Tidak hanya unsur intrinsik, ada juga unsur ekstrinsik yang terkandung dalam cerita dongeng Abu Nawas dan Telur Unta ini. Di antaranya adalah nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, seperti nilai budaya, sosial, dan moral. Baca juga Asal Mula Gunung Mekongga di Sulawesi Tenggara & Ulasan Menariknya, Tempat Terbunuhnya Burung Garuda Raksasa Fakta Menarik Tak banyak yang bisa diulik dari cerita dongeng Abu Nawas dan Terlu Unta ini. Meski demikian, ada satu fakta yang harus kamu baca. Apakah itu? Berikut ulasan singkatnya; 1. Versi Lain Pada umumnya, suatu dongeng memang memiliki beberapa versi. Begitu pun dengan cerita dongeng Abu Nawas dan Telur Unta ini. Dongeng ini memiliki versi cerita lainnya. Secara garis besar, kisahnya tetap sama, yaitu tentang kecerdikan Abu Nawas dalam menyembuhkan sang Raja. Bedanya, ketika sang Raja bertemu dengan sang nenek, ia tak hanya menanyakan soal telur unta saja. Tapi, ia turut membantu sang nenek membawakan kayu bakar hingga ke rumah nenek itu. Karena membawa kayu bakar yang cukup berat itulah penyakit pegal-pegal sang Raja menghilang. Artinya, sang Raja dalam versi ini tidak melulu memiliki sifat pemalas. Tapi, ia juga baik hati karena telah menolong seorang nenek yang sedang membawa kayu bakar. Baca juga Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari dari Sulawesi Tenggara & Ulasannya, Kisah Kebaikan Hati Seorang Gadis Hibur Teman-Temanmu dengan Kisah Lucu Abu Nawas dan Telur Unta di Atas Demikianlah kisah Abu Nawas dan Telur Unta beserta unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Apakah kamu suka dengan kisahnya? Kalau iya, jangan ragu tuk membagikannya dengan teman-temanmu. Jika mau baca kisah menarik lainnya, langsung saja cek situs kanal Ruang Pena. Ada kisah tentang Batu dan Pohon Ara, persahabatan Buaya dan Burung Penyanyi, Pengembara dan Sebuah Pohon, serta masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
Latihan Soal Online - Latihan Soal SD - Latihan Soal SMP - Latihan Soal SMA Kategori Semua Soal SMA Seni Budaya Acak ★ Ujian Semester 2 UAS / UKK Seni Budaya SMA Kelas 10Di dalam cerita Abu Nawas, tokoh utama memiliki sifat…. a. periang b. komedi c. humoris d. pemarah e. penyedih Pilih jawaban kamu A B C D E Latihan Soal SD Kelas 1Latihan Soal SD Kelas 2Latihan Soal SD Kelas 3Latihan Soal SD Kelas 4Latihan Soal SD Kelas 5Latihan Soal SD Kelas 6Latihan Soal SMP Kelas 7Latihan Soal SMP Kelas 8Latihan Soal SMP Kelas 9Latihan Soal SMA Kelas 10Latihan Soal SMA Kelas 11Latihan Soal SMA Kelas 12Preview soal lainnya Ujian Akhir Semester 2 Genap UAS UKK Seni Budaya SMA Kelas 11Berikut ini yang termasuk fungsi dari tari nusantara adalah…. a. melestarikan budaya bangsa b. menjadi wahana hiburan masyarakat c. ajang promosi budaya d. sarana bergaul kalangan remaja e. pelengkap berbagai acara seremonial Materi Latihan Soal LainnyaPemanfaatan Peta, Penginderaan Jauh dan SIG - Geografi SMA Kelas 12Bab 1 - PAI SMP Kelas 8PAT Biologi SMA Kelas 11PAT IPA SD Kelas 5Penilaian Harian PPKn SD Kelas 4 KD SD Kelas 2USBN Matematika SD Kelas 6IPA Tema 1 Subtema 3 SD Kelas 5PAT Matematika SD Kelas 4Kalimat Efektif - Bahasa Indonesia SD Kelas 6Cara Menggunakan Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang Jika halaman ini selalu menampilkan soal yang sama secara beruntun, maka pastikan kamu mengoreksi soal terlebih dahulu dengan menekan tombol "Koreksi" diatas. Tentang Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia.
Siapa yang suka membaca dongeng 1001 Malam? Sudah pernah membaca kisah Abu Nawas yang Doa Merayu Tuhan? Kalau belum, tak perlu ke mana-mana lagi, ya! Karena sekarang kamu sudah berada di tempat yang tepat. Yuk, simak langsung saja kisah Abu Nawas adalah salah satu bagian dari dongeng 1001 Malam. Biasanya, kisahnya mengandung pesan moral. Ada banyak kisah Abu Nawas, salah satunya adalah Doa Merayu Tuhan. Kamu sudah pernah membaca atau mendengar kisahnya?Berbeda dengan kisah lainnya, di dongeng ini Abu Nawas tak bersikap konyol. Secara singkat, dongeng ini mengisahkan tentang tiga orang murid yang bertanya pada gurunya, Abu Nawas. Pertanyaan mereka sebenarnya sama, tapi sang guru menjawab dengan tiga jawaban berbeda. Bagaimana bisa?Daripada penasaran, kamu mending langsung simak cerita lengkap Doa Abu Nawas Merayu Tuhan yang ada di artikel ini. Tak hanya kisahnya saja, unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya pun telah kami paparkan. Selamat membaca! Alkisah, di Timur Tengah, hiduplah seorang sufi bernama Abu Nawas. Karena kecerdasannya, ia memiiliki banyak murid. Ketika mengajar, ia dapat mengajar materi yang berbobot dengan penyampaian yang mudah dimengerti. Tak heran bila para murid sangat menyukainya. Pada suatu hari, ketika mengajar, ada tiga orang tamu yang mengunjunginya untuk mengajukan pertanyaan. Orang pertama bertanya, “Abu, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa kecil” Abu Nawas pun menjawab, “Orang yang mengerjakan dosa kecil.” “Kenapa begitu?” tanya orang pertama itu. “Sebab, Allah lebih mudah mengampuni dosa kecil ketimbang dosa besar,” jawab seorang sufi cerdas itu. Orang pertama itu pun menganggukkan kepala dan sangat puas dengan jawaban tersebut. Tak lama kemudian, bertanyalah orang kedua dengan pertanyaan yang sama, “Abu, menurut engkau, manakah yang lebih utama, mengerjakan dosa-dosa besar atau mengerjakan dosa-dosa kecil?” Dengan jawaban berbeda, sufi itu menjawab, “Orang yang tidak mengerjakan kedua dosa itu adalah yang utama.” “Mengapa demikian?” tanya orang kedua. “Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu saja Allah tidak perlu memberikan pengampunan,” ujarnya santai. Orang kedua pun menganggukan kepala dan puas dengan jawaban gurunya. Lalu, orang ketiga juga memberi pertanyaan yang sama, “Abu, mana yang lebih utama? Orang yang mengerjakan dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa kecil?” Ia dengan kalem menjawab, “Dosa yang besar lebih utama.” “Kenapa bisa begitu?” tanya orang ketiga. “Pasalnya, pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besar dosa hamba-Nya,” jawabnya kalem. Dan lagi, murid ketiga juga merasa puas dengan jawaban tersebut. Ketiga orang itu lalu pergi dengan hati yang puas. Seorang Murid yang Bertanya Murid yang sedari tadi mendengar Abu Nawas menjawab pertanyaan ketiga orang itu pun bertanya-tanya. “Abu, mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda,” ujarnya tak paham. Abu Nawas tersenyum lalu menjawab, “Muridku, manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, yaitu tingkatan mata, otak, dan hati.” “Maksudnya bagaimana Abu? Apa itu tingkatan mata?” tanya muridnya masih tak paham. Lalu, Abu Nawas menjelaskan dengan bahasa yang ringan, “Begini, seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang nampak di matanya.” “Emm, lantas apa itu tingkatan otak?” tanya sang murid itu mencoba perlahan-lahan memahami jawaban gurunya. “Berbeda dengan anak kecil, orang pandai akan berkata bahwa bintang itu besar karena ia punya banyak pengetahuan,” jawabnya. “Dan, apa itu tingkatan hati?” tanyanya mulai paham. “Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit akan tetap mengatakan bintang itu kecil, meski sebenarnya ia tahu bawah ukurannya begitu besar. Sebab, baginya, tak ada satu pun di dunia ini yang lebih besar dari Allah,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum. Mendengar jawaban terakhir, murid itu pun menganggukkan kepalanya. Kini, ia paham kenapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Doa Abu Nawas Merayu Tuhan Setelah puas dengan pertanyaan sebelumnya, si murid pun bertanya lagi, “Wahai guruku, bolehkah aku bertanya lagi?” “Tentu saja boleh, muridku. Apa yang ingin kau tanyakan?” jawab sang guru. “Mungkinkah manusia merayu Tuhan?” tanyanya. “Mungkin saja,” jawabnya santai menerima pertanyaan aneh itu. “Bagaimana caranya?” tanya murid itu penasaran. “Manusia bisa merayu Tuhan dengan kata-kata pujian dan doa-doa,” ujar Abu Nawas. “Kalau begitu, Guru, bolehkah aku tahu doa itu?” ujar si murid antusias. Lalu, Abu Nawas membacakan doanya, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi. Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali, “ Ia juga menyebutkan arti dari doa itu, “Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.” Baca juga Asal Mula Gunung Mekongga di Sulawesi Tenggara & Ulasan Menariknya, Tempat Terbunuhnya Burung Garuda Raksasa Unsur Intrinsik Usai membaca kisah Abu Nawas; Doa Merayu Tuhan, apakah kamu penasaran dengan unsur intrinsiknya? Kalau iya, berikut adalah ulasan singkat unsur-unsurnya, mulai dari tema hingga pesan moral; 1. Tema Inti cerita atau tema dari dongeng 1001 Malam ini adalah tentang kesabaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah. Seperti Abu Nawas yang sabar dan bijak menjawab setiap pertanyaaan dari ketiga orang dan muridnya. Selain itu, dongeng ini juga menceritakan doa atau syair puji-pujian untuk memohon ampun pada Allah Swt.. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh utama dalam cerita ini, siapa lagi kalau bukan Abu Nawas dan muridnya. Seorang sufi ini digambarkan sebagai sosok yang penyabar, bijak, dan pandai. Ia bisa menjawab pertanyaan dengan mudah dan santai. Kesabarannya terlihat dari ketulusannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tak lazim dari orang-orang. Sementara sang murid digambarkan sebagai seorang anak yang mudah penasaran. Ia ingin tahu apa saja yang dilihat dan didengarnya. Beruntung, Abu Nawas dengan sabar menjawab segala pertanyaan dari muridnya itu. Tokoh pendukung dalam kisah ini adalah tiga orang tamu. Mereka muncul dalam awal cerita untuk menanyakan tiga pertanyaan yang sama pada Abu Nawas. Meski pertanyaannya sama, sufi nan cerdas itu bisa menjawab dengan tiga jawaban berbeda. 3. Latar Latar tempat dan setting waktu dalam cerita ini tak disebutkan secara spesifik. Hanya saja, diperkirakan cerita ini menggunakan latar tempat di sebuah ruangan kelas atau mungkin di rumah Abu Nawas. 4. Alur Alur cerita dongeng 1001 Malam ini adalah maju. Cerita berawal dari kedatangan tiga orang tamu yang bertanya pada Abu Nawas. Mereka bertanya tiga hal yang sama pada sufi cerdas itu. Meski pertanyaannya sama, Abu Nawas dapat menjawab dengan tiga jawaban yang berbeda. Ketiga orang tamu itu puas dengan jawaban masing-masing dan kemudian pergi dari tempat Abu Nawas mengajar. Sontak, kejadian itu, membuat salah satu murid sufi tersebut penasaran. Lalu, dengan rasa penasaran, murid itu bertanya pada gurunya bagaimana bisa satu pertanyaan memiliki tiga jawaban yang berbeda. Ia lalu menjawab bahwa manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, yaitu tingkatan mata, otak, dan hati. Untuk mempermudah si murid memahami maksudnya, ia memberikan penjelasan lewat perumpamaan bintang di langit. Setelah itu, sang murid pun memahami maksud dari gurunya. Namun, ia masih memiliki pertanyaan lain. Murid itu penasaran, apakah Tuhan bisa dirayu oleh manusia? Dan jawaban Abu Nawas adalah mungkin saja bisa. Manusia mungkin bisa merayu Tuhan lewat pujian dan doa-doa. Setelah itu, Abu Nawas mengucapkan doa yang artinya adalah tentang pengakuan dan permintaan tobat seorang umat kepada Allah Swt.. 5. Pesan Moral Apakah pesan moral yang bisa kamu petik dari kisah Abu Nawas; Doa Merayu Tuhan ini? Salah satu pesan yang terkandung adalah berusahalah untuk bersabar menghadapi setiap masalah. Abu Nawas bisa saja marah kepada ketiga orang tamu yang memberinya pertanyaan sama. Namun, dengan cerdas ia malah memberikan tiga jawaban yang berbeda kepada setiap tamunya. Lalu, ia juga bisa saja memarahi muridnya yang memberikan pertanyaan tak lazim, yakni bisakah manusia merayu Tuhan. Hanya saja, ia memilih tuk memberikan pengertian bahwa merayu Tuhan bisa dengan cara berdoa dan memberikan pujian kepadanya. Selain unsur-unsur intrinsik, ada juga unsur ekstrinsik yang bisa kamu simpulkan dari kisah Abu Nawas; Doa Merayu Tuhan ini. Sebut saja nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sekitar pada saat itu, termasuk nilai budaya, sosial, dan moral. Baca juga Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari dari Sulawesi Tenggara & Ulasannya, Kisah Kebaikan Hati Seorang Gadis Fakta Menarik Sebelum mengakhiri artikel ini, kurang lengkap rasanya bila kamu belum membaca fakta menariknya. Karena ceritanya singkat, tak banyak fakta menarik yang bisa kami jabarkan. Namun, ada satu fakta yang sayang bila kamu lewatkan. Berikut ulasan singkatnya; 1. Kepopuleran Syair Abu Nawas Saat kamu membaca Doa Abu Nawas Merayu Tuhan di atas, apakah kamu merasa familier atau mungkin sudah mengetahuinya? Jadi, doa yang merupakan syair Abu Nawas yang populer dengan judul Syair Al-I’tiraf. Al I’tiraf sendiri artinya adalah pengakuan. Biasanya, pujian atau syair ini dikumandangkan sebelum adzan. Tak hanya itu, ada beberapa penyanyi religi yang cukup populer di Indonesia yang menyanyikan syair ini, seperti Ustaz Jefri Al Buchori, Nissa Sabyan, Fathur, dan Alfina Nindiyani. Kamu bisa mendengarkannya di Youtube. Baca juga Dongeng tentang Persahabatan Buaya dan Burung Penyanyi dan Ulasan Menariknya, Sebuah Pelajaran untuk Tidak Berkata Sembarangan Belajar Bersabar dan Bijak dari Kisah Ini Demikianlah artikel yang membahas kisah Abu Nawas; Doa Merayu Tuhan ini. Kamu suka dengan kisahnya? Semoga, dari kisah ini kamu bisa belajar kesabaran dan kebijaksanaan, ya. Selain itu, semoga saja kamu makin memahami Syair Al I’tiraf. Apabila tertarik untuk membaca kisah lainnya, langsung saja kepoin situs ini. Ada Doa Abu Nawas Minta Jodoh, Abu Nawas dan Keledai, kisah Abu Nawas Mencari Cincin, dan masih banyak lagi. Selain itu, ada pula cerita rakyat atau legenda Nusantara, seperti Tangkuban Perahu, asal usul Gunung Mekongga, dan kisah terbentuknya Pulau Nusa. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
di dalam cerita abu nawas tokoh utama memiliki sifat